Wujud Kepedulian JasMeRah, Rumah Garuda Surabaya Diresmikan

SURABAYA – Pembina Rumah Garuda Surabaya, Dasa’ad Gustaman, meresmikan Rumah Garuda Surabaya (RGS), bertempat di Jl. Rungkut Menanggal Harapan, Blok Q No.1 Surabaya, pada Kamis (20/2/2020) malam.

Dasa’ad menyampaikan puji syukur hari ini dapat melauching Rumah Garuda Surabaya. Menurut dia, keberadaan Rumah Garuda Surabaya ini, didirikan atau dibentuk untuk memberikan informasi supaya kita sebagai anak bangsa ini Jangan Sampai Meninggalkan sejaRah (JasMeRah).

“Alhamdulillah, keberadaan Rumah Garuda ini sangat berguna memberikan informasi sejarah kepada masyarakat dengan lebih memuaskan,” kata Dasa’ad usai menggunting pita pada peresmian Rumah Garuda Surabaya, Kamis (20/2).

Sementara itu, CEO Rumah Garuda Surabaya, Rr. Wendy Oktavianti berharap keberadaan RGS mampu memberikan lebih dalam tentang sejarah dan pemaknaan lambang Garuda Pancasila, yang kini mulai terlupakan dan terlepas dari pengamatan masyarakat.

“Kajian tentang lambang Garuda Pancasila sangat minim di Indonesia. Akibatnya, belum banyak referensi yang dapat menjelaskan secara komprehensif tentang asal-mula burung Garuda sebagai lambang negara. Itulah salah satu alasan mengapa kami mendirikan Rumah Garuda Surabaya agar dapat diakses oleh masyarakat luas,” ujar Wendy.

Wendy menjelaskan bahwa, sejarah lambang Garuda banyak menuai tanda tanya terkait dengan penemu lambang burung Garuda Pancasila, pendesain lambang Garuda, dan proses perkembangan desain lambang Garuda Pancasila hingga sampai berwujud seperti saat ini. Berbagai pandangan para ahli dan sejarawan bermunculan. Namun, tidak semua penjelasan memberikan jawaban yang memuaskan.

“Hal itu yang kemudian menarik perhatian kami mendirikan RGS ini. Dan secara tidak langsung Rumah Garuda Surabaya juga mengedukasi setiap pengunjung yang datang agar mengetahui nilai-nilai Pancasila melalui lambang Garuda Pancasila,” ungkap Wanita penyuka warna ungu itu.

Dia mengaku mendirikan Rumah Garuda Surabaya karena merasa gelisah sebab dari sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tidak satu pun menceritakan tentang proses terbentuknya lambang Garuda Pancasila. Padahal, burung Garuda terlihat begitu gagah dan luar biasa terpilih sebagai ikon lambang Garuda Pancasila.

“Ironisnya, informasi dan edukasi tentang lambang Garuda Pancasila kepada masyarakat jarang sekali kita dengar,” ucapnya.

Wendy menambahkan bahwa, Rumah Garuda Surabaya juga sebagai wujud kepedulian dan upaya pelestarian lambang Garuda Pancasila yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari kalangan pemerintah.

“Saya menilai hampir seluruh aspek makna Garuda berubah, misalnya dari segi fungsi, kadang hanya dipergunakan sebagai aksesoris. Padahal Garuda adalah soko guru spiritual bangsa, sulit dibahas dan diceritakan sebab masuk dalam konteks keimanan,” tandasnya.

Turut hadir dalam peresmian itu Dewan Kehormatan Bumi Budaya Nawacita (BBN) Jackson T Massie, penulis buku “Perempuan-Perempuan Menggugat” Esthi Susanti Hudiono, Tokoh Masyarakat, Komunitas Muda Millenial Jawa Timur, dan Mahasiswa/Mahasiswi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Selain peresmian Rumah Garuda Surabaya, acara kemudian dilanjutkan dengan Bedah Buku Esthi Susanti Hudiono yang berjudul “Perempuan-Perempuan Menggugat”.

Buku Esthi Susanti Hudiono (penulis dan aktivis intelektual) tersebut, menitikberatkan pada kemerdekaan-aktualisasi diri sebagai perempuan untuk menjadi diri yang seutuhnya telah menginspirasi Seruni Bodjawati (pelukis) untuk memvisualisasikan para perempuan pemimpin dalam wujud lukisan yang identik dengan guratan, garis, serta atribut-atribut simbolis.

Esthi menulisnya melalui studi literatur dan dialog dengan mereka yang paham tentang tokoh perempuan Indonesia sejak Oktober 2017 lalu.

Buku ini mengangkat semangat perjuangan perempuan-perempuan lintas zaman dalam melawan penindasan dan ketidakadilan yang ada di keluarga, masyarakat, dan negara.

Melalui studinya tersebut, Esthi pun menemukan banyak hal-hal reflektif, salah satunya adalah bahwa feminisme justru ada di tatanan lama Nusantara. (AF)