Untag Surabaya Dukung Bangun Pondasi Desa Wisata Budaya di Plunturan

PONOROGO – Belakangan ini, pemerintah tengah aktif menyokong desa untuk memaksimalkan potensi-potensinya. Pelestarian budaya asli Indonesia pun kian digencarkan demi menangkal gempuran budaya asing.

Kedua hal ini dieksekusi oleh Desa Plunturan dengan mempersiapkan diri menjadi desa wisata budaya. Desa yang terletak di Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo ini telah lama dikenal atas konsistensinya melestarikan budaya Reyog pakem lama dan keberadaan Reyog Putri.

Di saat banyak desa lain berupaya untuk berkreasi dan berinovasi dengan Reyog, Reyog pakem lama merupakan kesenian Reyog asli Ponorogo yang belum tersentuh pembaruan. Kesenian ini masih murni mengikuti ajaran leluhur. Baik dari segi musik pengiring, pakaian penari, maupun gerakan tarian.

Menamakan diri sebagai Reyog Onggopati, pengelolaan dan pelatihan reyog di Desa Plunturan dilakukan secara lintas generasi.

“Anak-anak memang sudah dikenalkan dan bahkan ikut berpartisipasi dalam penampilan reyog desa, dengan harapan agar tiap generasi selalu memiliki penerus untuk pelestarian kesenian reyog pakem lama,” ucap Mbah Bikan, salah satu sesepuh budayawan Desa Plunturan, Senin (13/1/2020).

Keunikan lain yang dimiliki oleh desa ini ialah keberadaan penari Reyog perempuan. Pertama kali dibentuk pada tahun 2012, kini para wanita dewasa maupun remaja di Plunturan mampu mengisi berbagai posisi pada penampilan Reyog. Mulai dari jathil, warok, ganongan, maupun barong.

Meski sempat ditentang oleh beberapa pihak karena selama ini Reyog identik dengan laki-laki, kini Reyog perempuan Desa Plunturan telah mengantongi izin dan terdaftar secara resmi di Dinas Pariwisata Ponorogo.

Untuk semakin memantapkan diri sebagai desa wisata budaya, Desa Plunturan baru saja menggelar Festival Malam Bulan Purnama & Gebyar Budaya. Dalam acara tersebut, warga desa menampilkan berbagai kesenian khas desa.

Selain reyog, ada pula seni Gajah-Gajahan, atraksi Pencak Silat, Orkes Melayu, dan banyak lagi penampilan lainnya. Festival yang diselenggarakan pada 11-12 Januari kemarin merupakan inisiatif dari warga desa yang didukung penuh oleh Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Dukungan Untag Surabaya juga dilakukan melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut pada 6-17 Januari 2020.

Semua program kerja dari tiga puluh mahasiswa yang terlibat diarahkan untuk membangun pondasi desa wisata budaya di Plunturan.

“Masing-masing mahasiswa berkontribusi sesuai dengan keahliannya masing-masing. Misalnya, mahasiswa teknik merancang beragam infrastruktur yang dibutuhkan oleh desa wisata. Sedangkan, mahasiswa sastra melakukan pemetaan dan pengarsipan kesenian desa,” ujar Amalia Nurul, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari kegiatan KKN tersebut.

Menurut Amalia, hal-hal penunjang lain pun disiapkan, salah satunya dengan inovasi pengolahan ubi yang merupakan sumber daya alam utama desa menjadi brownies ubi.

“Olahan ini, ditambah dengan kreasi suvenir penciri desa, diharapkan dapat menjadi oleh-oleh khas Desa Plunturan sebagai desa wisata budaya,” pungkasnya. (AF)