Tutup Acara MKNU, Gubernur Khofifah Minta Muslimat NU Fokus pada Bidang Layanan

SURABAYA – Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa resmi menutup acara Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Minggu, (12/1/2020) malam.

Acara tersebut digelar selama tiga hari mulai 10-11 Januari 2020 dan langsung dilanjut Training of Trainer (TOT) pada 12 Januari 2020. Dalam kegiatan ini sejumlah pengurus pusat dan 144 peserta dari 19 pimpinan wilayah Muslimat NU se-Indonesia turut hadir.

Acara yang sebelumnya dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj itu, memberikan penguatan kapasitas untuk medakwahkan Islam Ahlussunah wal Jamaah serta mewujudkan organisasi yang mandiri. Menurut KH Said Aqil Siroj, kemandirian organisasi harus menjadi prinsip Muslimat NU sebagaimana saat ini terus diperkuat oleh Nahdlatul Ulama.

“Kemandirian NU sangat penting direalisasikan oleh pengurus dan warga NU. Bentuk nyata yang sedang dilaksanakan oleh PBNU adalah dengan program koin muktamar yang saat ini sudah mendapatkan kurang lebih 5 miliar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat membuka acara Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, pada (10/1).

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Muslimat NU sebagai salah satu badan otonom NU akan lebih fokus pada bidang layanan. Sedangkan Fatayat NU lebih kepada advokasi dan IPPNU pada kaderisasi, sehinga organisasi sayap perempuan NU telah memiliki spesifikasi masing-masing.

“Kita ingin antara kuantitas dan kualitas itu berseiring. Apakah TPQ, PAUD, TK atau RA karena fokus layanan pendidikan di Muslimat itu ada payung hukumnya yaitu YPM (Yayasan Pendidikan Muslimat) Nahdlatul Ulama,” kata perempuan yang juga Gubernur Jatim itu.

Lebih jauh Khofifah menjelaskan, bahwa, di YPM NU itu memiliki 10 Balai Latihan Ketrampilan (BLK), lalu 6800-an PAUD, kemudian hampir 10 ribu TK dan RA, dan TPQ sekitar 16.500-an. “Ini layanan pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Muslimat NU,. Selain itu, Muslimat NU juga memiliki Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),” ujar Khofifah.

Baca Juga:  Didepan Forum AEGIS 2019 Gubernur Khofifah Beberkan Potensi Investasi Jatim

Sementara di layanan kesehatan, lanjut Khofifah, Muslimat memiliki Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU yang mengelola layanan kesehatan dan layanan sosial, seperti panti sebanyak 143 Panti Asuhan, 10 panti Lansia, 73 rumah sakit dan klinik.

“RS Siti Hajar di Jatim awalnya itu pengelolanya adalah Musimat NU, setelah berkurban kmudian bersama-sama NU tapi ketua Yayasan Siti Hajar tetap Muslimat. Yayasan Kesejahteraan Muslimat sekarang dikembangkan ada klinik pratama serta 5 kinik hemodialisis,” beber Ketum PP Muslimat NU

Selain itu, Muslimat juga memilliki Yayasan Haji Muslimat (YHM) NU sebanyak 156 KBIH yang fokus memberikan bimbingan haji di lingkungan Muslimat NU.

“Untuk menjaga kemabruran lalu kita kembagkan Majelis Dzikir Muslimat NU. Tapi majelis dzikir dan majelis taklim Muslimat NU itu itu payung hukumnya sendiri yaitu Yayasan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU, sekarang ada sekitar 69 riuan majelis taklim di lingkungan Muslimat NU,” terang Khofifah.

Kemudian yang berbadan hukum lagi adalah induk koperasi Annisa yang sekarang ada 9 pusat kopersi (puskop) di tingkat provinsi. Lalu 144 koperasi primer yang berbadan hukum, baik yang sudah dibawah naungan Puskop maupun belum.

“Di Indonesia mungkin ada 4 induk koperasi perempuan, salah satunya adalah millik Muslimat NU yaitu induk koperasi Annisa,” ucapnya.

“Jadi melalui 5 layanan inilah yang menjadi fokus Muslimat. Artinya tidak hanya akwah it melalui ceramah atau istighotsah tapi dakwah juga dakwah melalui pendidikan, layanan kesejahteraan muslimat, apakah layanan sosial seperti panti ataukah layanan kesehatan di Muslimat, kemudian yayasan haji, yayasan himpunan daiyah majelis taklim dan induk koperasi Annisa,” imbuhnya.

Baca Juga:  La Nyalla Apresiasi Cara Khofifah dan Emil Doakan USBN di Jatim Agar Lancar

MKNU ini diikuti 22 provinsi selama 3 hari ini, kata Khofifah bertujuan untuk memperkuat ruh Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) berupa fiqroh (pemikiran), harakah (gerakan) dan amaliyah (aktualisasi). Artinya pikiran kita itu beraswaja seperti apa sih.

“Kalau Kiai Said tadi banyak bercerita soal Islam Wasatiyah (Attawasut) yang merupakan kristallisasi dari Aswaja, salah satunya adalah Attawasut (bagaimana kita membangun moderasi), kemudian Attasamuh, tapi karena waktunya mepet sehingga kurang diulas oleh Kiai Said,” jelas Khofifah.

Lebih jauh Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menjelaskan bahwa peserta MKNU disiapkan untuk menjadi corong ke publik bahwa ada sifat, sikap dalam pola pikir, dalam gerakan maupun dalam beramal yang di NU itu dikristalisasi menjadi Mabadi’ Khoiru Ummah.

“Pada posisi ini bagaimana moderasi, bagaimana toleransi atau tasamuh, kemudian bagaimana adil (adl). Ini posisi-posisi yang memang harus di internalisasikan di dalam diri setiap warga NU baru kemudian dia akan bisa menyampaikan pesan bagaimana sikap wasatiyah, sikap moderasi harus dibangun,” ungkap mantan Mensos RI ini.

Sikap wasatiyah itu bisa dikembangkan dalam dalam Syariat menganut Madhab Imam Syafi’i, Tasawuf (akhlak) menganut Imam Al Ghozali, Akidah menganut Imam Abu Hasan Al Asy’ari. MKNU ini akan dilanjutkan TOT, sehingga mereka sepulang dari sini sudah bisa menjadi trainner untuk menyemaikan nilai-nilai moderasi, toleransi, keadilan.

“Dan kita berharap seluruh penguatan NU akan bisa menjadi penguat bagaimana upaya membangun suasana damai dan kondusif di negeri ini,” pungkas Khofifah. (AF)