Polres Nganjuk Tumpas Kasus Peredaran Narkoba dan Pil Double L

NGANJUK – Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranata, S.I.K., MH., menggelar pers rilis kasus penyalahgunaan narkoba yang diungkap dari delapan tersangka. Polisi menyita 3,55 gram narkotika jenis sabu-sabu dan 1.179 butir pil double L.

Kapolres menjelaskan saat ditangkap, anggota melakukan penggeledahan terhadap tersangka ditemukan barang bukti, berupa sabu-sabu. Pengedar mendapatkan sabu-sabu tersebut yang ditaruh di suatu tempat yang sudah disepakati oleh tersangka.

“Para tersangka melakukan transaksi narkoba di tempat yang berbeda-beda. Seperti warung kopi, atau di jalan. Ada juga yang di rumahnya. Tergantung permintaan dari pembeli,” ungkap AKBP Dewa saat ditemui di ruang kerjanya, Jum’at (30/8/2019).

Delapan tersangka yang diringkus Polres Nganjuk diketahui bernama Febrianto Andreas Kasino (25), warga Surabaya, Didik Liswahyudi (28), warga Nganjuk, Aris Prasetyawan (28), warga Kediri. Mereka merupakan pengedar sabu-sabu. Sedangkan pengedar pil double L ialah, Tulus Widodo (24), Eri Subiantoro (22), Heru MP (37), ketiganya warga Nganjuk.

Baca Juga:  Polda Jatim Tangkap Jaringan Narkoba Internasional

Sejumlah barang bukti yang disita petugas dari tangan tersangka diantaranya 3,55 gram narkotika jenis sabu-sabu, alat hisab (bong) dan ponsel sebagai sarana transaksi dalam back covernya. Sedangkan barang bukti 1.179 butir pil double L, 1 unit sepeda motor, 6 buah ponsel dan uang tunai Rp 1.540.000.

“Untuk mendapatkan barang haram tersebut, tersangka membeli dengan harga 1 gram Rp 1,3 juta. Lalu oleh pengedar dibagi menjadi paket kecil dan dijual satu paketnya seharga Rp 400 ribu,” kata Kapolres.

Sementara masih kata Kapolres kelahiran Bali, tersangka Teguh Subiantoro mendapatkan pil double L itu dari seseorang yang ada di Bekasi dan dikirim lewat paket. Kemudian dijual seharga Rp 1,2 juta untuk paket besar, dan paket kecil seharga Rp 15 ribu.

Baca Juga:  BNNP Jatim Musnahkan Sabu Seberat 5,26 Kilogram, Satu Tersangka Ditembak Mati

“Pil dobel L ini biasanya dijual para tersangka di semua kalangan, baik pelajar maupun anak-anak wilayah Nganjuk,” imbuhnya.

Dalam perbuatannya, kedelapan tersangka dijerat Pasal 114 ayat (1) jo Pasal 112 ayat (1) huruf (a) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 196 jo Pasal 98 ayat (2), (3) UU RI Nomor 36 tahun tentang kesehatan. (Ady).