Polisi Tangkap Dua Anggota Sindikat Joki CPNS Kemenkumham

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani

MAKASAR – Tim Satuan Reserse Polrestabes Makasar berhasil menangkap dua pelaku perjokian tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia.

Keduanya merupakan buruan aparat karena telah masuk Daftat Pencarian Orang (DPO). Satu dari dua DPO joki tersebut ternyata PNS. Keduanya ditangkap setelah hampir satu bulan lebih melarikan diri.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani, kepada wartawan, kemarin, menjelaskan, kedua DPO yang tertangkap itu, yakni M Rusnan (30), dan Andi Slamet alias Memet (28).

Keduanya tertangkap di rumah masing-masing. Rusnan warga Biringkanaya dan Memet warga Bontoala.

“Rusan diketahui sebagai pegawai swasta, sementara Memet tercatat sebagai PNS di Dinkop (Dinas Koperasi) Kota Makassar,” jelas Dicky, Kamis (8/11/2018).

Dia menjelaskan bahwa, peran dari Rusnan dan Memet ialah membuat identitas palsu. Identitas tersebut dipakai para joki untuk masuk ke ruang menggantikan peserta asli mengikuti tes tertulis CPNS.

Baca Juga:  Pada Zaman Belanda Kemenkumham RI Disebut "Departemen Van Justitie"

“Dari penyelidikan petugas, keduanya merupakan bagian dari jaringan nasional yang sudah bekerja bertahun-tahun. Mafia ini memiliki peran masing-masing,” jelasnya.

Dicky mengungkapkan, ada yang berperan sebagai joki, ada yang berperan sebagai pembuat identitas palsu, dan ada yang berperan sebagai broker atau calo.

“Memet mengaku perannya hanya sebagai pembuat identitas palsu. Dari hasil kerjanya ini, dia dibayar Rp75 juta untuk tiga orang,” ungkapnya.

Menurutnya, mereka merupakan jaringan nasional, yang tidak hanya beroperasi di Sulsel. Bahkan di Jawa juga terdapat beberapa joki tes CPNS 2018 yang masih termasuk jaringan yang ditangkap di Makassar.

“Mereka ini jaringan nasional yang sudah berpengalaman, sudah mengetahui cara menjawab tes CPNS yang susah, bahkan mereka ini sudah melakukan aksinya selama bertahun-tahun tidak hanya tahun ini,” ucapnya.

Kedua pelaku disangkakan Pasal 263 ayat 1 dan 2 juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP yang merupakan tindak pidana pemalsuan surat dan menggunakan surat palsu dan atau turut serta melakukan kejahatan dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun.

Baca Juga:  Antisipasi Minimnya Peserta Lolos SKD CPNS, Pemerintah Siapkan Solusi Kebijakan

Sebelumnya, Polisi sudah mengamankan enam orang, yakni empat joki, satu calo, dan satu peserta tes CPNS. “Dengan ditangkapnya dua orang tersebut, masih ada tujuh pelaku jaringan ini yang masuk daftar DPO. Kami terus mengejar mereka dan mengungkap mafia ini,” janji Dicky.

Keempat joki yang diamankan tersebut, yaitu Martin Tumpak, Ahmad Lutfi, Hamdi Widi, dan Adi Putra. Keempat ditangkap di hari berbeda. Sabtu, satu orang dan hari Minggu ada tiga orang yang diamankan.

“Mereka ini menggantikan peserta CPNS yang sebenarnya, dengan janji akan diberi uang kepada joki sebesar Rp10 juta sampai Rp40 juta, apabila peserta dinyatakan lulus PNS,” pungkasnya.(Red/Lim).