Polda Jatim Tangkap Andria Andiansah Terkait Edit dan Sebar Video Hoaks Berisi Kerusuhan Papua Tahun 2016

SURABAYA – Tersangka kasus penyebaran kabar hoaks insiden yang terjadi di asrama mahasiswa Papua terus bertambah. Sebelumnya sudah ada tiga orang yang ditetapkan Polisi sebagai tersangka, yaitu Tri Susanti atau Mak Susi, Samsul Arifin alias SA dan Veronica Koman (DPO).

Satu orang yang baru ditetapkan tersangka dalam insiden tersebut adalah Andria Andiansah (25), pria warga Kebumen, Jawa Tengah.

Menurut Wadir Reskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara, dalam kasus ini tersangka Andria lantaran turut menyebarkan video hoaks di YouTube.

“Video hoaks yang berisi kerusuhan di asrama mahasiswa Papua itu disebar dengan cara diunggah oleh pelaku di YouTube. Kita tangkap di Kebumen, Jateng,” kata Arman, Kamis (5/9/19).

Baca Juga:  Menko Polhukam Minta Masyarakat Papua dan Papua Barat Tidak Mudah Diadu Domba

Arman juga menjelaskan video (hoaks) yang ditayangkan AD di YouTube tersebut diketahui merupakan video lama yang diambil Juli 2016. Namun pelaku mengedit kembali video itu dan diupdate oleh pelaku pada 16 Agustus 2019.

“Video yang telah diedit tersebit diberi judul Tolak Bendera Merah Putih, Asrama Papua Digeruduk Warga,” beber Arman.

Hingga kini, kata Arman pihaknya telah memeriksa beberapa saksi. Dan ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan sejumlah barang bukti.

“Sudah ada 4 saksi yang kita periksa, termasuk saksi ahli. Sedangkan barang bukti itu sendiri selain video di YouTube, kita juga menemukan CD ada videonya,” ungkap Arman.

Baca Juga:  Sambut Hari Ibu 22 Desember, Polda Jatim Usung Tema "Perempuan Berdaya, Indonesia Maju"

Arman mengaku pihaknya masih melakukan pemeriksaan lanjutan. Jadi Arman belum temukan fakta baru apakah tersangka Andria ada kaitannya dengan tersangka lain.

“Sama sekali tidak ada hubungannya. Ini berdiri sendiri. Kita akan melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi lain. Kita akan melihat melalui perkembangan hasil penyelidikan,” jelas Arman.

Polisi juga telah menyita beberapa barang bukti seperti video yang diunggah di YouTube. Sedangkan pelaku terjerat UU ITE Pasal 28 ayat 2 dan pasal 45 ayat 2 dengan ancaman hukuman 6 tahun. (Ady)