Penyandang Disabilitas Kini Bisa Nikmati Kamus Besar Bahasa Indonesia

JAKARTA — Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kini bisa dinikmati oleh para penyandang disabilitas khususnya tuna netra. KBBI itu dicetak dengan huruf braille yang keseluruhannya dibagi menjadi 138 jilid yang setiap jilidnya berisi 50 lembar.

KBBI Braille ini rencananya akan diluncurkan pada Kongres Bahasa Indonesia XI di Jakarta pada 28-31 Oktober 2018 mendatang. KBBI Braille juga merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan keadilan dan akses bagi penyandang disabilitas sesuai Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

“KBBI Braille ini sudah lama ditunggu-tunggu oleh teman-teman penyandang disabilitas tersebut,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dadang Sunendar, saat memberikan paparan pada acara Taklimat Media Kongres Bahasa Indonesia XI di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Braille adalah sistem tulisan dan cetakan untuk para tunanetra berupa kode yang terdiri atas enam titik dalam pelbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba. Braille itu diciptakan oleh seorang tunanetra Perancis yang bernama Louis Braille yang menderita kebutaan waktu kecil.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud bekerja sama dengan Balai Penerbitan Braille Indonesia Kementerian Sosial dalam penyusunan KBBI Braille tersebut. Tahapan demi tahapan dilakukan dalam menyempurnakan kamus tersebut agar layak dicetak dan digunakan oleh penyandang disabilitas tersebut.

Pertama, tahapan pengalihan huruf latin ke Braille, kemudian penyuntingan oleh beberapa penyandang disabilitas langsung agar menghindari kesalahan penulisan, keterbacaan, dan lainnya. Terakhir adalah tahap pencetakan dan penjilidan KBBI Braille.

Secara fisik, KBBI Braille tidak jauh berbeda dari KBBI V, hanya saja terdapat tambahan nama instansi pengalih huruf berikut pencetaknya serta logo Braille. Keberadaan KBBI Braille ini juga merupakan satu dari sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terutama para penyandang disabilitas netra. (Red).