Pengacara Pastikan Mak Susi Tidak Ditahan Penyidik, Asalkan Tidak Lakukan Ini

SURABAYA – Sahid, selaku tim kuasa hukum Tri Susanti atau Mak Susi pastikan penyidik Polda Jatim tidak akan menahan kliennya serta profesional dalam menangani kasus penyebaran kabar hoak terkait insiden di asrama mahasiswa Papua kawasan Jalan Kalasan Surabaya.

“Kita yakin, kalau penyidik akan profesional dalam menangani kasus Bu Susi. Selain transparan dan juga jelas dalam pasalnya, bahwa masalah ini tidak ada penahanan dan (Mak Susi) tidak wajib untuk ditahan,” ujar Sahid saat ditemui di Mapolda Jatim, Senin (2/9/2019).

Menurut Sahid, Mak Susi bisa ditahan jika penyidik menemukan beberapa indikasi. Seperti menghilangkan barang bukti hingga tidak kooperatif. Namun Sahid pastikan tidak melakukan hal-hal tersebut.

“Jika Bu Susi ditahan, biasanya jika ada indikasi tertentu. Buktinya barang buktinya sudah disita penyidik semua,” tuturnya.

Baca Juga:  Polda Jatim Masih Identifikasi Spesifikasi 13 Mobil Mewah Bodong

Selain itu masih lanjut Sahid, penyidik bisa melakukan penahanan biasanya karena pelaku ada indikasi akan mengulang perbuatan (kasus) yang sama. Sahid pun yakin bahwa Susi tidak akan mengulangi kembali.

“Apabila Bu Susi ada indikasi mengulangi tindak pidana lagi, pasti ditahan. Jadi saya yakin dia tidak mengulangi. Saya juga percayakan penyidik profesional dan transparan,” imbuh Sahid.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan Susi sebagai tersangka kasus hoaks dan Ujaran kebencian. Ada beberapa pasal yang menjerat Susi.

Diantaranya Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 4 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis, Pasal 160 KUHP, Pasal 14 ayat (1), (2) dan Pasal 15 KUHP.

Baca Juga:  Terima Reward dan Gabung di Aplikasi MeMiles, Dua Mobil Mewah Milik Ari Sigit Disita Penyidik

Sahid menambahkan bahwa Mak Susi tidak melanggar ujaran rasialisme. Namun diakui hanya dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 tentang ITE.

“Yang disangkakan pasal 28 ayat 2 tentang ITE bukan rasis,” pungkas Sahid.

Dikesempatan yang sama, Susi menegaskan bahwa saat waktu insiden, dirinya tidak melontarkan ujaran rasialisme kepada mahasiswa Papua.

“Tidak (rasis),” jawab singkat Mak Susi kepada awak media, (2/9).

Sementara saat ditanya apakah dia siap jika akan ditahan usai diperiksa, Susi enggan menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.

Tak hanya itu, Susi juga mengaku tidak mengetahui dirinya ditetapkan pasal berapa dan tentang apa. Namun, dirinya mengaku menghormati panggilan dari polisi.

“Kurang tahu saya untuk pasal apa tentang apa saya kurang tahu,” imbuh Susi. (Ady)