Mengenang 11 Tahun Gus Dur Wafat, Buah Pemikirannya Tetap Relevan Hingga Sekarang

JAKARTA – Hari ini, Rabu 30 Desember 2020, tepat 11 tahun Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mangkat di usia 69 tahun. Tokoh Nahdlatul Ulama itu meninggal pada 30 Desember 2009.

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meninggal dunia di usia 69 tahun. Malam ini, Rabu (30/12/2020) Haul ke-11 Gus Dur akan diselenggarakan secara virtual.

Dilansir dari laman nu.or.id, acara haul kali ini mengangkat tema ‘Persatuan dan Solidaritas Satu Negeri Satu Cinta’ ini akan disiarkan langsung dari tiga kota yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Jombang melalui beberapa kanal. Di antaranya; 164 Channel, TV9 Official, dan halaman facebook KH Abdurrahman Wahid.

“Jadi kami mengangkat tema ini sebenarnya untuk mengingatkan kembali bahwa nilai-nilai yang pernah diajarkan Gus Dur merupakan modal sosial untuk memastikan kita semua bisa keluar dari berbagai macam tantangan yang menimpa bangsa ini. Termasuk pandemi Covid-19 ini,” tutur Ketua Panitia Haul, Anita Wahid yang merupakan putri ketiga Gus Dur.

Gus Dur dikenal sebagai sosok yang unik, banyak orang acap kali dibuat bingung dan bahkan ucapannya sering menjadi kebenaran di waktu lain. Bahkan hingga saat ini pemikiran dan humornya senantiasa menghiasi laman media sosial.

Gus Dur tidak sekedar menggunakan produk-produk pemikiran Islam tradisional sebagai hasil final tetapi lebih menekankan pada penggunaan metodologi dalam kerangka pembuatan sintesis untuk melahirkan gagasan baru sebagai upaya menjawab problem sosial aktual.

Baca Juga:  Nyai Lily Wahid Apresiasi Janji Luhut Binsar Pandjaitan Hibah Tanah untuk PBNU

Di samping kehidupan pesantren, ia juga diperkenalkan dengan kelompok-kelompok sosial yang lebih luas. Pendidikan dunia Timur Tengah yang kosmopolitan terutama di Bagdad yang bercorak sekuler dan liberal secara langsung ikut mewarnai corak pemikirannya.

Meskipun secara formal ia tidak belajar di Barat, tetapi sejak muda ia terbiasa dengan pemikiran-pemikiran barat. Oleh karena itu ia lebih siap bergaul dengan wacana-wacana besar pemikiran barat dan keislaman, dan bahkan kedua sumber tersebut (Islam dan Barat) dikombinasikan secara kritis-dialektis sebagai basis yang kemudian membentuk pemikirannya.

Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai LSM dan mudah bergaul dengan komunitas heterogen dari berbagai karakter budaya, etnis, dan agama dengan ideologi yang berbeda-beda dari yang konservatif, fundamental, liberal, sampai pada level sekuler sekalipun. Hal ini secara signifikan mempengaruhi pola pikir dalam melihat realita.

AS Hikam, seorang peneliti LIPI sebagaimana dilansir dari Barisanco, mengemukakan pola pemikiran Gus Dur pada dasarnya dapat dipahami sebagai produk dari tiga kepedulian ulama: pertama, rivitalisasi warisan Islam tradisonal ahlussunnah wal jama’ah yang komitmen atas kemanusiaan (insaniyah), antara lain adanya kepedulian yang kuat pada kerukunan sosial (social harmony) dan sikap inklusif yang ada dalam ajaram Islam.

Kedua, wacana modenitas yang didominasi pemikiran sekuler Barat dan semangat pencerahan (enlightenment). Gus Dur tetap mengacu pada paham ahlussunah wal jama’ah untuk menyikapi perkembangan modern dengan sikap terbuka dan kritis untuk mencari titik temu antara keduanya.

Baca Juga:  Nyai Lily Wahid Apresiasi Janji Luhut Binsar Pandjaitan Hibah Tanah untuk PBNU

Modernitas tidak disikapi dengan kronfontatif tidak seperti apa yang dilakukan banyak cendikiawan Islam, tetapi secara akomodatif guna menemukan titik temu yang bermanfaat memecahkan masalah umat, tanpa harus meningalkan Islam tradisional.

Ketiga, Gus Dur selalu berusaha pencarian jawaban atas tantangan yang dihadapi umat Islam bangsa Indonesia di tengah perubahan yang amat cepat dari proses globaliasi dan modernisasi.

Lantas, Greg Barton, Fachry Ali dan Bachtiar Effendi memasukkan Gus Dur sebagai Neo-modernis Islam. Neo Modernis Islam merupakan gerakan pemikiran progresif yang mempunyai sikap positif terhadap modernitas, perubahan dan pembangunan. Bahkan aliran ini kritis terhadap dampak modernitas dan tidak melihat Barat sebagai ancaman bagi dunia Islam namun antara keduanya saling mengisi.

Neo modernis juga mengedepankan sikap inklkusif, toleran dan liberal serta selalu melakukan kontekstualisasi ajaran Islam. Barton menemukan tema yang dominan dalam pemikiran Gus Dur yaitu tema humanitatianisme liberal. Tema liberal secara fundamental mendapat tempat yang besar dalam pemikiran Islam Abdurrahman Wahid tanpa harus meninggalkan prinsip Islam tradisional.

Sebagai seorang politikus, Gus Dur juga adalah tokoh lintas agama. Ia dikenal getol menyerukan toleransi antar sesama umat beragama. Gus Dur adalah ketua PBNU tiga periode sejak 1984-1994. (Red)