Lontarkan Kata “Monyet” di Kerusuhan AMP, Terdakwa Divonis 5 Bulan Penjara

SURABAYA – Mengenai vonis 5 bulan penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya terhadap terdakwa Syamsul Arifin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Nizar menyatakan pikir-pikir.

Menurut Nizar, pernyataan pikir-pikir selama tujuh hari kedepan pihaknya diberi kesempatan oleh majelis hakim untuk langkah selanjutnya (banding atau menerima) atas vonis tersebut.

“Untuk saat ini kita masih pikir-pikir. Menunggu perintah pimpinan. Bisa jadi terima atau bandingnya nanti saya kabari lagi. Karena keputusan itu apa kata pimpinan,” kata JPU Nizar kepada wartawan saat dikonfirmasi di Kejati Jatim, Jalan A Yani Surabaya, Jum’at (31/1/2020).

Terdakwa Syamsul Arifin dinyatakan bersalah atas perkataan “monyet” yang dilontarkannya pada saat kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Surabaya, 16 Agustus 2019 lalu.

Sidang digelar di ruang Garuda PN Surabaya, pada Kamis (30/1/2020) kemarin dengan agenda putusan (vonis). Sedangkan majelis hakim yang memimpin persidangan adalah Yohannes Hehamony.

“Mengadili, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Syamsul Arifin dengan pidana penjara selama 5 bulan dikurangi selama terdakwa menjalani masa penahanan,” ujar Ketua majelis hakim Yohannes Hehamon, saat membacakan amar putusan, Kamis (30/1) kemarin.

Baca Juga:  Kecanduan Sabu, Warga Sawah Pulo Di Tuntut 7 tahun Penjara

Seperti yang dituangkan dalam amar putusan hakim, perkataan terdakwa dianggap sebagai bentuk rasisme dan berbententangan dengan Pasal 16 UU RI Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Selain hukuman kurungan penjara, terdakwa Syamsul Arifin juga dikenakan denda sebesar Rp1 juta. Jika tidak membayar denda tersebut, maka diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan penjara.

Vonis yang dijatuhkan hakim kepada terdakwa sendiri lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Jatim menuntut terdakwa dengan 8 bulan penjara.

Syamsul sendiri sudah menjalani tahanan sejak 3 September 2019. Jika dihitung sejak masa penahanannya itu Syamsul telah menjalani 5 bulan tahanan dan otomatis langsung bebas.

Usai menerima vonis dari majelis hakim tersebut, terdakwa mengaku puas dan lega. Ia juga mengaku sudah meminta maaf dengan dengan apa yang diucapkannya kepada mahasiswa Papua.

Baca Juga:  Jual Sabu, Sepasang Kekasih di Vonis 11 Tahun

“Alhamdulillah, menerima. Besok langsung pulang. Saya juga sudah minta maaf. Saya hanya mematuhi dan kooperatif,” tutur terdakwa.

Diketahui, Selain terdakwa Syamsul Arifin, Kasus ini juga menyeret dua terdakwa lainnya yakni Tri Susanti alias Mak Susi, mantan anggota ormas FKPPI dan Andria Ardiansyah, seorang youtuber asal Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini,Mak Susi dituntut hukuman 1 tahun penjara lantaran dianggap JPU terbukti menyebar berita bohong atau hoaks melalui sarana elektronik yakni WhatsApp terkait perusakan bendera merah putih di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya pada Jum’at (16/8) lalu.

Sedangkan terdakwa Andria Ardiansyah dituntut 8 bulan penjara oleh JPU Kejati Jatim dan menyatakan terdakwa bersalah karena telah menggugah insiden Kerusuhan di akun YouTube tanpa melihat fakta yang sebenarnya. (Ady)