Kritik Poster Bertuliskan “Kami Rakyat Jokowi”, Rocky Gerung Dinilai Hilang Akal Sehat oleh Warga Jatim

SURABAYA – Rocky Gerung kembali berkicau setelah mengaku mendapati poster yang bertuliskan ‘Kami Rakyat Jokowi’ selama kunjungannya di beberapa daerah di Jatim. Rocky pun menyindir Bawaslu yang tidak menertibkan hal tersebut.

Rocky mengatakan, saat ini masih terdapat spanduk-spanduk yang mendukung salah satu paslon dengan kalimat sentimentil. Dia mencontohkan, salah satu spanduk tersebut yaitu bertulisan ‘Kami rakyat Jokowi’, namun menurutnya Bawaslu tidak melakukan peneguran.

“Saya seminggu lalu muter-muter Jawa Timur, Tuban, Lamongan, Jember, dan itu sepanjang kawasan-kawasan strategis Jatim ada baliho gede-gede, tulisannya ‘Kami rakyat Jokowi’ dan Bawaslu nggak negur yang pasang spanduk itu,” kata Rocky saat di acara Aliansi Pengusaha Nasional, yang digelar di Djakarta Theater, Kamis (21/3/2019).

Menanggapi hal ini, Ketua Garda Militan Majapahit (GMM), Ani Sulastri, mengatakan bahwa, Rocky lagi kehilangan akal sehat, makanya dia baper dan seperti kaum hawa yang melankolis ketika akan mendapat jatah bulanannya atau menstruasi. Menurutnya, Rocky lupa menggunakan akal sehat rupanya sehingga tulisan seperti itu di bahas secara sangat ilmiah. “Karena terlaku ilmiahnya sampai Rocky menafikan kenyataan bahwa kita ini memang rakyat jokowi,” ujar Ani, Senin (25/3/19).

Ani menjelaskan bahwa, tahun lalu kubu 02 merasa diatas angin karena tagar #2019GantiPresiden menjadi sangat booming. “Mereka membully pro jokowi dengan ejekan sama kaos saja takut,” jelasnya.

Sekarang saat kubu Jokowi membalas, lanjut Ani mengatakan bahwa mereka jadi blingsatan. Padahal skalanya masih Jawa Timur bagaimana kalau tulisan “KAMI RAKYAT JOKOWI” ini menyebar di seluruh Indonesia, apakah mungkin Rocky Gerung cs akan menuduh macam-macam pada rakyat.

“Mereka sangat alergi dengan satu kata yakni “Jokowi”, padahal pada banyak kesempatan pendukung Prabowo selalu menyebut Prabowo presiden dan begitupun sebaliknya Prabowo menyebut mereka rakyatku. Kenapa Rocky tidak mempermasalahkan padahal menurut akal sehat manusia, hal tersebut sangat tidak masuk akal,” tambahnya.

Ani juga menyarankan agar Rocky jangan hanya gunakan akal sehat, tetapi imbangi dengan hati yang tulus, serta buang rasa kebencian. Berfikir akan logis jika akal bertemu dengan akal, asal akalnya ditempatkan pada tempat yang benar. “Tempat akal ada di kepala bukan di dengkul. Jadi setiap gejolak bisa kita nikmati dengan santai tanpa harus menimbulkan kegaduhan,” tuturnya.

Baca Juga:  La Nyalla Academia Gelar Aksi Kampanye Simpatik Senam Goyang Jempol Gaspol

Ditanya tentang Garda Militan Majapahit (GMM), Ani juga menyampaikan bahwa, GMM adalah sebuah komunitas Masyarakat di Jawa Timur yang sangat kepada cinta tanah air, dan sangat menghormati perbedaan diantara sesama, dan ada tekat (komitmen) keinginan hidup bersama.

“Jika keinginan hidup barsama sudah tidak ada, hilang-lah Rasa kebangsaan itu. Orang Indonesia jika tidak mau hidup bersama dengan yang lain, ini artinya rasa kebangsaan mulai luntur,” ucapnya.

Karena menurutnya, cinta tanah air juga ditetapkan dengan nilai-nilai ke-Islaman, dalam Al Qur’an juga disebutkan” manusia diciptakan bersuku-suku untuk saling mengenal, saling menghormati, dan saling menghargai.

“Jadi keberadaan bangsa itu takdir/kodrat. Selain itu, saya juga mengucapkan Big Bravo buat penggagas Rumah Rakyat Jokowi. Pemikiran sederhana namun membuat guncang kubu 02. Dan salam akal waras dari kami masyarakat Jatim, karena kami adalah Rakyat Jokowi,” tandasnya.


Tanggapan dari Pakar Bahasa dan Bawaslu

Sementara itu, Pakar Bahasa Henri Nurcahyo menilai tidak ada yang salah dengan spanduk bertuliskan ‘Kami Rakyat Jokowi’ yang banyak tersebar di Jawa Timur. Karena menurutnya hal itu lumrah saja.

“Ya nggak apa-apa, dalam konteks politik ini kita nggak bisa mengartikan secara baku, selalu ada dramatisasi dan pelebih-lebihan,” kata Henri kepada media, Senin (25/3/2019).

“Meski kalau keterlaluan kadang sampai ke arah pembodohan,” tambah penulis buku ‘Memahami Budaya Panji’ itu.

Dikatakan Henri, dalam dunia politik hiperbola dan dramatisasi merupakan hal yang lazim. Sebab hal itu memang dibutuhkan untuk menggaet pemilih bahkan juga untuk memprovokasi lawan politiknya.

“Dalam dunia politik itu kan biasa selalu dilebih-lebihkan dan didramatisir biasa. Ya supaya bisa berlebihan sesuai dengan maksudnya. Memang itu maksudnya (Memprovokasi). Dengan menggunakan kata ‘rakyat’ supaya rakyat terprovokasi maksudnya,” terang Henri

Baca Juga:  Jokowi: Percayakan Pengungkapan Kasus 21-22 Mei kepada Polri

“Tapi kalau saya ditanya apa makna di spanduk itu saya artikan pengikut atau pendukung. Bisa jadi rakyatmu itu kan pendukungmu. Tidak mesti dalam artian rakyat Jokowi kalau yang tidak mendukung, bukan rakyat Jokowi. Itu terlalu kaku dan sederhana dalam mengartikan rakyat,” tandasnya.

Sementara saat menanggapi kritik Rocky Gerung terkait spanduk ‘Kami Rakyat Jokowi’ Henri menilai Rocky terlalu kaku dalam mengartikan kata ‘rakyat’. Namun dia memaklumi apa yang disampaikan oleh Rocky. Sebab sebagai seorang oposan, hal itu juga lumrah.

“Rocky itu terlaku kaku mengartikan rakyat. Kalau saya mengartikan rakyat ya pengikut. Ya maklum lah dia oposan selalu cari celah ya wajar saja,” tegas Henri.

Sebelumnya, Bawaslu juga menjawab kritik dari Rocky Gerung terkait sebutan ‘Bawasri’ atau Badan Pengawas Jari. Bawaslu menilai Rocky tidak memahami arti kampanye.

“Mungkin Pak Rocky Gerung tidak mengerti kampanye itu apa. Masalah gestur jari itu kan masalah keberpihakan. Misalnya ASN (Aparatur Sipil Negara), kan sesuai arahan MenPAN-RB. Berarti Pak Rocky nggak baca surat edaran MenPAN-RB,” ujar Anggota Bawaslu, Rahmat Bagja saat dimintai tanggapan, Jumat (22/3/2019).

Bawaslu juga menanggapi kritikan Rocky terkait spanduk-spanduk yang mendukung salah satu pasangan capres-cawapres dengan kalimat sentimentil. Bawaslu mengklaim ada lebih dari 100 ribu spanduk yang diturunkan Bawaslu.

Bagja menjelaskan penurunan spanduk itu dilihat dari isi tulisan spanduk itu sendiri, bukan hanya dari bahasa sentimentil atau tidak. Tetapi, dilihat apakah ada unsur kampanye hitam atau tidak.

“Kedua, masalah spanduk, itu sudah banyak yang kita tindak banyak sekali 100 ribu bahkan hampir lebih dari 100 ribu. Lebih dari 100 ribu penurunan spanduk. Sedangkan alat praga kampanye yang bermasalah di tempat bermasalah, kontennya juga bermasalah itu kita turunkan,” jelasnya. (Red/AF).