Ketua Komisi I DPRD Gresik Soroti Pengembang Perumahan Puri Asta Kencana Abaikan Fasum dan Fasos

GRESIK – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gresik, Jumanto menyayangkan kepada pihak pengembang perumahan Puri Asta Kencana yaitu PT Asta Bangun Graha yang belum memenuhi kewajibannya untuk menyediakan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).

Menurut Jumanto, setiap pengembang berkewajiban menyediakan fasos dan fasum sebagai fasilitas ruang publik yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Kelengkapan sarana, prasarana dan fasilitas umum merupakan unsur penting dari perumahan sebagai bagian dari pemukiman, baik perkotaan maupun pedesaan. Hal tersebut hasil upaya dalam bentuk pemenuhan rumah yang layak huni,” kata Jumanto saat dikonfirmasi, Jumat (19/6/2020).

Jumanto menjelaskan bahwa, Fasum dan Fasos itu wajib hukumnya yang harus dicukupi oleh pengembang perumahan.  Jika seandainya ada perubahan, harus merubah dalam rencana tapak (site plan).

“Namun jika tidak ada addendum site plan, pengembang  wajib menggunakan site plan yang pertama itu untuk dibangun. Seandainya dipindahkan, itu pun hanya memindahkan saja, luasnya pun harus sama disesuaikan dengan harga pasar yang sekarang kalau di pindahkan. Tetapi, harus ada addendum site plan, dan itu pun harus segera di alokasikan,” jelas Jumanto.

Dia pun menegaskan, jangan sampai, warga yang sudah terlanjur membeli rumah, akhirnya harus turun tangan sendiri bahkan sampai harus mendemo pengembang demi menuntut hak. Kondisi inilah yang sering terjadi. Setelah warga protes keras, baru pengembang bergerak.

“Ketegasan pemerintah daerah sangat diperlukan. Pengembang (PT Asta Bangun Graha,red) yang tidak mengindahkan aturan itu jelas harus ditindak lanjut. Jika perlu izinnya dicabut,” tegas  Jumanto mengakhiri.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Boteng Nurali membenarkan selama ini developer PT Asta Bangun Graha selaku pengembang Perumahan Asta Puri Kencana tidak pernah memberikan fasum ke warga. Menurutnya, selama ini yang menyediakan fasum di perumahan tersebut adalah swadaya warga dengan dibantu pihak desa.

Baca Juga:  Pengembang Ingkar Janji, Ratusan Warga Puri Asta Kencana Demo Minta Kejelasan Hak Fasum

“Ya memang benar seperti itu mas, jadi selama ini yang menyediakan fasum seperti tempat ibadah, lampu jalan, dan jalan menuju perumahan itu atas swadaya warga dengan dibantu pihak desa,” kata Nurali saat kemarin dihubungi melalui selulernya, Rabu (17/6/2020).

Dijelaskan Nurali, selama ini pihak pengembang hanya membangun perumahan saja tanpa memikirkan membangun fasilitas umum maupun fasilitas sosial untuk warga. Bahkan terkesan acuh dengan pihak Pemerintahan Desa (Pemdes) Boteng.

“Kami malah senang dengan adanya pemberitaan terkait tuntutan warga Puri Asta Kencana kepada pengembang, hal itu dikarenakan pihak pengembang seolah-olah tidak ada perhatian kepada warga Puri Asta Kencana terkait penyediaan fasum dan fasos,” ujar Nurali.

Bahkan, masih kata Nurali, pembangunan tempat ibadah (masjid) di Puri Asta Kencana itu selain dari hasil swadaya warga juga ada salah satu warga yang sempat menggadaikan rumahnya untuk tambahan biaya pembangunan masjid.

“Ya namanya masjid itu kan penting bagi warga yang akan menjalankan ibadah, makanya salah satu warga kemarin sampai nekat menggadaikan rumahnya untuk biaya pembangunan masjid, dengan angsuran ditanggung secara bersama-sama dengan warga lain,” terang Nurali.

Diakui Nurali, pihak developer memang kurang peduli dengan warga yang menempati Puri Asta Kencana maupun dengan pihak Pemerintah Desa. Terbaru, ketika warga mengajukan bantuan untuk membeli alat pengukur suhu tubuh untuk mengikuti aturan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, pihak pengembang juga tidak mau memberikan.

Baca Juga:  Daftar BLT JPS Dampak Covid-19 Ditolak, Kades Gredek Gresik Ngamuk dan Copot Baju di Hadapan Pegawai Kecamatan

“Kemarin aja waktu warga minta dibantu untuk membeli thermogun juga tidak dihiraukan, akhirnya kita sendiri yang memberikan satu buah thermogun untuk dipakai mengecek suhu tubuh bagi warga ataupun tamu yang datang ke perumahan Puri Asta Kencana,” ungkap Nurali.

Nurali berharap agar pengembang dapat segera merealisasikan tuntutan warga Puri Asta Kencana terkait penggantian biaya pembuatan fasilitas umum.

“Ya minta tolong dibantu mas, agar keluhan warga Puri Asta Kencana ini dapat didengar oleh pihak pengembang maupun pemerintah daerah melalui Harian Merah Putih,” ucap Nurali.

Sedangkan, Hari Mujiadi salah satu warga Puri Asta Kencana juga berharap agar pihak pengembang dapat segera merealisasikan tuntutan warga terkait penggantian biaya pembuatan fasilitas umum.

“Kemarin Senin (15/6) katanya pengembang mau menemui warga tapi gak jadi. Ya semoga pada 30 Juni nanti pengembang mau datang agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan,” ujar Hari selaku Ketua RT 22, RW 05, Puri Asta Kencana itu.

Sebelumnya, sebanyak 430 Kepala Keluarga (KK) warga Puri Asta Kencana menuntut hak fasilitas umum (fasum) yang sudah hampir 20 tahun tidak diberikan oleh developer, PT Asta Bangun Graha.

Fasilitas umum itu mulai jalan menuju perumahan, penerangan jalan, penyediaan jasa keamanan, dan tempat ibadah. Selain itu, warga yang meminta bantuan peralatan pengukur suhu tubuh untuk menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, developer juga tak menghiraukannya. (AF)