Kasus Lama Diangkat Kembali, Sidang Perdana PT. PRIA vs Pendowo Bangkit Diwarnai Aksi Massa

MOJOKERTO – Suasana di depan plant PT. Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto terasa berbeda, Kamis pagi (30/1/2020) pagi. Jika biasanya ramai oleh karyawan perusahaan yang keluar masuk plant. Kali ini terlihat sepi.

Hampir semua karyawan yang shift pagi, tidak masuk kerja. Mereka memilih untuk hadir ke Pengadilan Negeri Mojokerto untuk mengikuti jalannya sidang perdana antara PT. PRIA dan Pendowo Bangkit.

Hadir dalam sidang tersebut Ketua Pendowo Bangkit, Nurasim, yang didampingi beberapa kuasa hukumnya. Tidak cukup dengan itu, di luar ruang persidangan, tepatnya di trotoar pinggir jalan depan Pengadilan Negeri Mojokerto berkumpul puluhan warga Lakardowo menggelar aksi. Mereka berorasi dan membentangkan spanduk bertuliskan kalimat-kalimat bernada protes pada PT. PRIA.

Di sisi lain, karyawan PT. PRIA yang dari pagi sudah tak terbendung, melakukan kontra aksi terhadap demo warga. Karyawan yang hadir tanpa koordinasi itu bergerak dan bersuara atas prakarsa sendiri. Karena merasa persoalan yang berlarut-larut membelit perusahaan tersebut berkaitan erat dengan mata pencaharian mereka.

Suasana sempat memanas ketika orasi dari pihak Pendowo Bangkit memancing emosi karyawan PT. PRIA. Beruntung pihak keamanan sigap menenangkan massa. Dan memghimbau pada pihak pendamping Pendowo Bangkit yang berasal dari luar Desa Lakardowo untuk tidak menyulut emosi massa.

Baca Juga:  Ketua BPN Prabowo-Sandi Kabupaten Batubara Jalani Sidang Perdana Kasus ITE

Poin tuntutan warga Lakardowo yang diwakili Pendowo Bangkit adalah meminta Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Mojokerto untuk menerima sepenuhnya gugatan mereka tentang Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan PT. PRIA dengan menimbun limbah B3 di wilayah Desa Lakardowo.

Suasana panas di luar sidang tidak berimbas ke dalam ruang sidang Cakra, tempat persidangan dihelat. Majelis Hakim yang memeriksa keabsahan dan kelengkapan berkas legalitas dari pihak penggugat dan tergugat tampak begitu tenang dan tegas. Para awak media yang mau mengambil gambar di dalam ruang sidang, diberi waktu dua menit sebelum sidang. Agar acara persidangan yang khidmat tidak terganggu oleh keberadaan juru gambar.

Agenda sidang hari ini memang hanya pemeriksaan berkas, seperti sidang perdata pada umumnya. Akan tetapi, karena perkara ini tentang lingkungan maka masuk pada lingkup perkara khusus. Sebelum sidang memasuki tahap selanjutnya, penting sekali bagi Majelis Hakim untuk memastikan orang-orang yang hadir dalam persidangan, sah secara legal mewakili prinsipal (pihak yang bersengketa).

Baca Juga:  Enam Terdakwa Kasus Amblesnya Jalan Raya Gubeng Jalani Sidang Perdana

Ada hal baru dalam sidang perdata kali ini, mulai tahun 2020, Pengadilan Negeri Mojokerto menerapkan e-litigasi. Artinya, Replik Duplik juga harus dikirim secara online melalui email ke aplikasi milik Pengadilan.

Usai persidangan, Manajer Plant PT. PRIA, Mujiono, mengatakan bahwa perkara kali ini, secara substansi, tidak berbeda dengan perkara-perkara sebelumnya.

“Dulu tahun 2013, permasalahan ini sudah pernah digugat di PTUN Jakarta. Tahun 2014, gugatan dicabut oleh pihak penggugat dan sudah mendapatkan penetapan dari pengadilan. Saat ini kami juga sedang menjalani proses hukum di MA, menghadapi Peninjauan Kembali yang mereka ajukan,” terang pria tampan yang juga penduduk asli Desa Lakardowo itu.

Mas Muji, panggilan akrabnya, pada kesempatan ini juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang dirasakan karena adanya aksi massa.

“Karyawan PT. PRIA tidak demo. Mereka hanya ingin melihat jalannya sidang. Karena perkara ini menyangkut perusahaan tempat mereka bekerja. Jadi saya atas nama manajemen perusahaan meminta maaf kepada masyarakat atas semua kegaduhan dan ketidaknyamanan ini,” ujarnya santun. (red/yud/jek)