Kasus Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya, Enam Terdakwa Sepakat Dakwaan JPU

SURABAYA – Usai mendengarkan isi dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jatim, keenam terdakwa kasus amblesnya Jalan Gubeng ini sepakat tidak mengajukan nota keberatan atau eksepsi.

Kesepakatan itu dinyatakan langsung oleh Jansen Sialoho selaku tim kuasa hukum dari tiga terdakwa dari PT Nusa Konstruksi Enjeneering (NKE), yaitu Ir. A.I. Budi Susilo, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto disela-sela sidang perdana di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

“Kami tidak mengajukan ekesepsi atau keberatan atas dakwaan JPU,” kata Jansen dihadapan majelis hakim R. Anton Widyopriyono di persidangan, Senin (7/10/2019).

Alasan Jansen tidak mengajukan eksepsi itu kendati pihaknya ingin membuktikan bahwa kliennya tidak bersalah.

“Kami akan menuangkan bantahan atas surat dakwaan ini melalui pembelaan nanti,” ujarnya.

Usai persidangan, pada awak media, Jansen mengaku kliennya tidak layak didudukan sebagai pesakitan, lantaran amblesnya Jalan Gubeng tersebut telah diperbaiki.

“Kalau menurut kami mestinya tidak ada perkara, teman teman juga tau, itu jalan kan sudah diperbaiki, itu tanpa disuruh siapa pun, ambles langsung kami perbaiki, bahkan langsung kami kordinasi dengan Pemkot dan Polda untuk langsung perbaiki,” ungkap Jansen.

Baca Juga:  Enam Terdakwa Kasus Amblesnya Jalan Raya Gubeng Jalani Sidang Perdana

Senada dengan Jansen, tim penasehat hukum tiga terdakwa lainnya dari PT Saputra Karya yakni Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono juga memilih tidak mengajukan eksepsi.

“Tidak ada hal hal formil yang perlu dilakukan keberatan, jadi keberatan keberatan kami sifatnya substansi perkaranya langsung. Kalau substansi perkaranya langsungkan tempatnya bukan di eksepsi tapi tempatnya nanti di nota pembelaan,” kata Martin Suryana pada wartawan usai persidangan.

Seperti diketahui, enam terdakwa kasus amblesnya Jalan Gubeng ini menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan surat dakwaan dari JPU Kejati Jatim dengan dua berkas terpisah.

Keenam terdakwa itu adalah, Ir. A.I. Budi Susilo, Rendro Widoyoko, Aris Priyanto dari PT Nusa Konstruksi Enjineering (NKE), Ruby Hidayat, Lagi Samar Handrian dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono dari PT Saputra Karya.

Dakwaan yang pertama dengan tiga terdakwa Ir. A.I. Budi Susilo, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto ini dibacakan oleh JPU Rachmat Hari Basuki. Dilanjutkan dakwaan sesi kedua, dibacakan JPU Dini Ardhani. Kedua JPU ini berkantor di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya.

Baca Juga:  Menggelitik, Biar Semangat Bersih-bersih, Gadis Mungil Simpan Sabu Dalam Bra

Dalam dakwaan JPU menyebutkan, bahwa keenam terdakwa ini dinilai telah melakukan, menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja menghancurkan, membikin tak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk lalu lintas umum atau merintangi jalan umum darat atau air atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan atau jalan itu, jika karena perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan lalu lintas.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jalan Raya Gubeng ambles, pada 18 Desember 2018 sekitar 20.00 WIB. Amblesnya Jalan Gubeng ini disebabkan oleh adanya proyek pengerjaan basement samping RS Siloam milik PT Saputra Karya yang dikerjakan oleh PT Nusa Kontraktor Enjineering Tbk.

Pada kasus ini para terdakwa didakwa JPU dengan Pasal berlapis. Tiga terdakwa berkas pertama dijerat dengan Pasal 192 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Kemudian tiga terdakwa dalam berkas kedua dijerat dengan Pasal 63 ayat 1 UU RI Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan, Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1. (Ady).