Imigrasi Tanjung Perak Deportasi Pelatih Basket Putri Asal Singapura

SURABAYA – Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak melakukan deportasi kepada Brian Yee Chun Hoe (32), WNA asal Singapura, pada Sabtu (16/1) melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya. Brian dideportasi karena menyalahi izin tinggal di Indonesia.

Kepala Seksi (Kasi) Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Intedakim) Kantor Imigrasi Tanjung Perak, Washington Saut Dompak (WSD) Napitupulu mengatakan, Brian telah melanggar Pasal 78 Ayat 3 UU Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian.

“Dia kita kenakan sanksi administratif berupa deportasi dan penangkalan. Pagi ini, Brian sudah kita deportasi ke negara asalnya,” ujar Washington kepada media, Sabtu (16/1/2021).

Menurut Washington, selama tinggal di Indonesia (Surabaya,red), Brian telah menggunakan izin tinggal kunjungan. Karena izin tinggalnya sudah habis dan melebihi tinggal lebih dari 60 hari, maka terpaksa dia kami pulangkan ke negara asalnya.

Selama di Indonesia, Brian menjadi pelatih basket putri di Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

“Brian kita amankan dari mess pria Kampus UNESA Lidah Kulon pada 6 Januari lalu. Saat kita amankan, yang bersangkutan kooperatif,” ujarnya.

Baca Juga:  Imigrasi Tanjung Perak Gelar Rapat Koordinasi TIMPORA

Washington menjelaskan bahwa, Brian datang ke Indonesia di masa pandemi Covid-19. Ia berada di Surabaya sejak 17 Maret 2020 lalu melalui Bandara Internasional Juanda. Di mana sejak pandemi melanda dunia, setiap WNA yang datang ke Indonesia di atas tanggal 5 Februari 2020 sudah pasti tidak akan bisa keluar dari Indonesia.

Namun, untuk bisa tetap tinggal sesuai Permenkumham Nomor 6 Tahun 2020, yang bersangkutan harus melakukan perpanjangan izin. Sampai dengan ditentukan tanggal terakhir perpanjangan izin bagi WNA pada 5 Oktober 2020, Brian tidak mengindahkan aturan tersebut.

“Yang bersangkutan tidak melakukan perpanjangan karena mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai peraturan terakhir 5 Oktober 2020,” jelas Washington.

Padahal masih kata Washington, Imigrasi selalu melakukan sosialisasi Permenkumham tersebut dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter dan instagram.

“Kalau sosialisasi tatap muka masih belum karena masih pandemi, tapi kita terus melakukan sosialisasi ini lewat semua media sosial,” tambahnya.

Sementara pihak UNESA sendiri tidak pernah merasa pernah menampung WNA asal Singapura itu. Atas kasus ini, Imigrasi Tanjung Perak akan mendalami siapa yang membantu Brian untuk mendapatkan tempat tinggal.

Baca Juga:  Tim Pusdatin Lakukan Monitoring di Imigrasi Tanjung Perak

“Brian kita jerat dengan pasal 78 Ayat 3 UU Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian. Dia kita kenakan sanksi administratif berupa deportasi dan penangkalan,” pungkas Washington.

Sementara itu, kepada wartawan Brian mengaku kedatangannya ke Indonesia karena pacarnya adalah atlet basket putri Indonesia yang nantinya akan bertanding di PON (Pekan Olahraga Nasional). Brian ingin membantu latihan tertutup tim basket tersebut.

“Saya juga diundang untuk mambantu mendampingi latihan dan dijanjikan sedikit persetujuan, setelah dijalani satu bulan ternyata tidak ada apa-apa,” ungkap Brian.

Brian juga mengaku yang mengurus tempat tinggalnya di mess UNESA adalah salah satu pegawai Pemprov Jatim.

“Kalau yang undang aku masuk orang Pemprov Jatim. Dia juga orang KONI Jatim dan Tim Basket Putri. Biasanya kalau yang urus-urus izin Timnas ke dia,” pungkas Brian. (*)