Efek Demo Mahasiswa di Sejumlah Daerah, Asing Jual Saham Hingga Lemahnya IHSG dan Rupiah

JAKARTA – Pasar saham merespons negatif aksi demonstrasi mahasiswa di depan gedung parlemen, menuntut pemerintah dan DPR untuk membatalkan revisi undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), dan revisi UU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Investor asing ramai-ramai melepas sahamnya (net sell) di bursa saham domestik hingga Rp 993,94 miliar di pasar reguler. Sementara di pasar negosiasi dan tunai, investor asing terpantau melakukan pembelian bersih saham (net buy) sebesar Rp 220,59 miliar.

Sebagai informasi, sepanjang tahun ini dana asing telah keluar dari pasar saham hingga mencapai Rp 15,55 triliun di pasar reguler. Namun di pasar negosiasi/tunai, dana asing mengalir masuk ke Indonesia sebesar Rp 63,93 triliun sehingga aliran modal asing masih mengalir masuk ke pasar saham Rp 48,38 triliun.

Keluarnya dana asing dari pasar saham membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (24/9), terkoreksi sebesar 68,59 poin atau 1,11% ke level 6.137,61. Ini pertama kalinya IHSG turun di bawah level psikologis 6.200 sejak 6 Agustus 2019.

“Kalau bicara IHSG dua hari terakhir, sejak ada demonstrasi memang cenderung terkoreksi. Demonstrasi mempengaruhi perseposi katalis negatif untuk investor terhadap IHSG hari ini,” kata Head of Research Infovesta, Wawan Hendrayana ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (24/9).

Kendati demikian, menurut Wawan, demonstrasi saat ini tak akan berakhir seperti di Hong Kong. Hal tersebut karena DPR sebenarnya menunda pengesahan revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).

“Tuntutan mahasiswa diakomodasi sehingga demonstrasi bisa meredah,” kata Wawan.

Menurut data RTI Infokom, ada tiga saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing sepanjang hari ini. Ketiga saham tersebut yaitu saham Bank Central Asia Tbk. (BBCA) di urutan teratas dengan net sell investor asing sebesar Rp 221,8 miliar. Saham BCA hari ini tercatat turun 1,33% menjadi Rp 29.725 per saham.

Baca Juga:  Resahkan Masyarakat, DPR Akhirnya Tunda Pengesahan Empat RUU

Mengikuti saham BCA di urutan kedua yaitu saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell investor asing sebesar Rp 184,7 miliar. Saham Bank Mandiri hari ini terkoreksi 1,67% menjadi Rp 4.110 per saham.

Sedangkan di posisi ketiga ada saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan net sell asing Rp 117 miliar. Sepanjang hari ini saham perusahaan telekomunikasi pelat merah ini terkoreksi sebesar 0,94% menjadi Rp 4.210 per saham.

Selain ketiga saham tersebut, investor asing juga terpantau melepas saham lainnya seperti Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 60,2 miliar, United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp 54,6 miliar, dan Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar 46,6 miliar.

Ketiga saham ini juga mencatatkan koreksi yakni ASII turun 2,26% menjadi Rp 6.475 per saham, UNTR anjlok 4,07% menjadi Rp 21.200, dan ADRO memimpin koreksi di kelompok 45 saham berkapitalisasi pasar terbesar atau LQ 45 dengan turun 5,47% menjadi Rp 1.295 per saham.

Bikin IHSG dan Rupiah Melemah

Demonstrasi penolakan RUU KUHP dan RUU lain yang dilakukan oleh mahasiswa di beberapa kota di Indonesia, juga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah kompak melemah.

Pada penutupan perdagangan Selasa (24/9), IHSG merosot 1,11% ke level 6.137 dari hari sebelumnya. Pelemahan ini didorong oleh sektor pertambangan, aneka industri, industri dasar, keuangan, industri konsumsi, perkebunan, dan infrastruktur. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp773,2 miliar.

Baca Juga:  Moeldoko: Presiden Selalu Tekankan Agar Investor Mendapat Kemudahan

Analis Artha Sekuritas, Dennies Christoper Jordan mengatakan pelemahan diakibatkan turunnya kepercayaan investor akibat dari kelanjutan negosiasi Amerika dan China yang masih belum bisa dipastikan dan situasi politik dalam negeri yang saat ini kurang kondusif.

Selain itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan memanasnya situasi politik dalam negeri yang disertai aksi jual investor asing selama 3 bulan berturut-turut menjadi satu kecemasan bagi pelaku pasar.

“Beberapa saham dalam sektor industri konsumsi, aneka industri, dan perbankan terus memberikan tekanan dalam satu pekan ini,” kata Nico dalam riset hariannya, Selasa (24/9).

Di sisi lain, dari data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah mengalami pelemahan ke level Rp14.099 per dolar Amerika Serikat.

Sementara Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi juga mengatakan, Bank Indonesia (BI) terus memantau perkembangan demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang terjadi saat ini.

“BI terus melakukan intervensi melalui transaksi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF,” kata Ibrahim secara terpisah.

Ibrahim menyebut, dengan fundamental ekonomi yang cukup baik, intervensi tersebut membantu mata uang rupiah tetap terjaga di zona aman sehingga fluktuasi rupiah dapat dikendalikan.

Untuk transaksi hari Rabu (25/9), Ibrahim memperkirakan rupiah kemungkinan masih akan melemah. Namun, dengan adanya intervensi BI, pelemahan rupiah tidak akan terlalu melebar, hanya 10-15 poin dan berada di kisaran Rp14.070-Rp14.125 per dolar AS. (KD/AN).