Bos Pasar Turi Henry J Gunawan Meninggal Dunia di Rutan Surabaya, Diduga karena Sakit Jantung

SURABAYA – Bos Pasar Turi, Henry J Gunawan meninggal di Rutan Kelas I Surabaya, pada Sabtu (22/8/2020).

Kabar kematian Henry J Gunawan yang saat ini menjalani hukuman kasus pemalsuan dokumen surat nikah itu dibenarkan Karutan Medaeng Handanu.

“Inggih (iya), saya lagi nyusun kata-kata dulu biar urut nanti saya jelaskan. Terima kasih sudah konfirmasi ke kami,” ujarnya.

Disinggung soal meninggal jam berapa, Handanu kembali menegaskan bahwa biar runtut dan berita akurat masih disusun dulu.

“Nanti saya pastikan dulu ke dokter,” ujarnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kadiv Pemasyarakatan, Pargiyono. “Iya mas saya juga baru saja mendapat laporan via telepon dari Karutan Medaeng,” singkatnya.

Informasi yang ada, bahwa kematian Henry J Gunawan yang saat ini ditahan di blok H karena penyakit jantung.

Baca Juga:  Rutan Perempuan Surabaya Minta Masukan Untuk Proyek Pembangunannya

Seperti diketahui, Bos pasar turi Henry J Gunawan dan istrinya Iuneke Anggraini divonis masing-masing 3 tahun penjara dan 1 tahun 6 bulan, pada 19 Desember 2019. Majelis hakim menilai kedua terdakwa terbukti secara sah telah memalsukan keterangan pernikahan ke dalam akta autentik.

Sebelum meninggal dunia, Henry sempat menghubungi pengacaranya, Lilik Djaliyah melalui HP sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu itu, Henry mengeluh bahwa dadanya terasa sakit.

“Sekitar pukul 19.00 kontak mengeluh dada sakit,” ujar Lilik saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8/2020).

Lilik sempat menanyakan bagian dada yang terasa sakit sebelah kanan atau kiri namun belum sempat dijawab oleh Henry J Gunawan.

Baca Juga:  22 WBP Lapas Sidoarjo Dapat Bebas Bersyarat Melalui Crash Program

“Setelah itu hallo..hallo.. sudah tidak dijawab,” jelasnya.

Saat itu juga, Lilik langsung menghubungi istrinya, adik Henry, dan sopir untuk mengecek ke Medaeng karena kelihatannya gawat.

“Selang beberapa menit sudah ada info kalau Pak Henry meninggal,” tambah Lilik.

Disinggung soal penyakit yang diderita Henry, Lilik mengatakan kalau penyakit jantung sudah lama.

“Mungkin tadi lagi kumat. Karena mungkin hari libur, dokter tidak ada. Dan tidak ada yang memantaunya,” ujarnya.

Soal dimakamkan, Lilik belum bisa memastikan karena dirinya saat ini berada di Solo.

“Kemungkinan di makam keluarga di Lawang. Tapi saya belum tahu pasti, karena luar kota,” pungkas Lilik. (Rd)