Biografi “HATTA ALI THE UNTOLD STORIES” Kisah Perjalanan Hidup dari Ketua Mahkamah Agung RI

LimaMenit.ID – Prof. Dr. Muhammad Hatta Ali, S.H., M.H., adalah sosok pembalap yang hidupnya lebih banyak di jalanan, sering bolos sekolah dan hobi berkelahi bisa menjadi orang nomor satu di Mahkamah Agung dengan menyandang predikat Guru Besar Bidang Hukum.

Itulah fakta hidup yang dialami oleh Muhammad Hatta Ali, Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia (2012-2020) dan salah seorang putra terbaik bangsa yang pernah dinobatkan sebagai Pemimpin Perubahan tahun 2018 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Hatta Ali adalah sosok pribadi dengan sejarah hidup yang unik sekaligus menginspirasi banyak orang. Setiap segmen perjalanan hidupnya penuh dengan lika liku dan syarat oleh pergulatan batin. Kerasnya hidup yang dijalani telah menempa dirinya menjadi sosok pribadi yang tangguh dan bermental baja.

Saat memasuki masa remaja, Hatta tergabung sebagai anggota geng motor yang memiliki nama besar di era tahun 60-an. Balapan liar dan perkelahian antar geng menjadi sebab julukan ‘berandalan’ sempat melekat padanya. Hatta menjadi nama yang disegani oleh pembalap di seantero Makasar kala itu. Keberaniannya dalam menantang maut di arena balap mampu menggetarkan nyali para pesaingnya.

Perjalanan waktu mulai membentuk kedewasaannya. Sebuah peristiwa besar terjadi saat dirinya beranjak dewasa. Ibunya meninggal ketika ia masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang penuh. Sontak jiwanya terguncang, semangatnya hancur dan harapannya luluh lantak. Hatta sempat kehilangan arah dan haluan dalam menapaki jalan hidupnya.

Di saat ia benar-benar sedang terpuruk, ada kekuatan yang seakan meraihnya. Kekuatan itu membantu menyalakan kembali gelora semangat dalam jiwanya. Hatta seperti terbangun dari sebuah mimpi panjang. Ia seolah hidup kembali dengan sebuah energi baru. Tubuhnya mulai bangkit kembali untuk melangkah menuju sebuah titik yang akan mengubah 180 derajat perjalanan hidupnya.

Baca Juga:  Ketua Mahkamah Agung Resmikan Lima Fasilitas Baru

Kepergian sang ibu menjadi titik balik dalam sejarah hidupnya. Nama besar sebagai pembalap dan predikat berandalan perlahan-lahan mulai redup terganti oleh berbagai prestasi akademik. Hatta menjadi sangat terpelajar dan berprestasi. Banyak yang tak percaya, Hatta ‘sang pembalap liar’ bisa lulus sarjana dengan predikat sebagai mahasiswa teladan. Selain itu, ia mampu menyelesaikan masa kuliahnya dengan waktu tercepat diantara teman seangkatannya.

Ibu adalah sosok yang paling dihormati. Keberanian Hatta dalam menantang maut di arena balap, ternyata rapuh di hadapan sosok perempuan bernama Hajjah Samate. Bahunya yang kokoh dan badannya yang tinggi kekar tak mampu berdiri tegak di hadapan sang Ibu.

Hatta tidak pernah membantah apapun yang dikatakan Ibunya. Jiwa dan raganya selalu diabdikan untuk memenuhi titah dan perintah dari sang ibu. Jika sebuah hikayat lawas mengatakan ‘meminum air pencucian kaki dari seorang Ibu bisa mendatangkan keberkahan’ maka Hatta adalah salah satu dari orang yang benar-benar pernah melakukannya. Baginya itu bukan sekedar hikayat atau petuah bijak, melainkan sebuah energi dan penggerak dalam mencapai puncak kesuksesan.

Sosok Ibu bagi Hatta laksana mentari disaat siang dan rembulan ketika malam. Ibu selalu menjadi tempat untuk bersimpuh dan mengadu. Doa dari sang Ibu senantiasa menjadi kekuatan dalam setiap gerak dan langkahnya. Usapan halus jemarinya di kening Hatta semasa kecil menjadi energi yang tidak pernah padam. Petuah-petuahnya adalah jimat yang selalu memberi kekuatan saat menghadapi rintangan yang menghadangnya.

Hatta tidak sempat mengenal banyak tentang sosok ayahnya. Haji Ali meninggal saat ia masih berusia 3 tahun. Nama besar dan kesuksesan ayahnya hanya ia dengar dari cerita Ibunya dalam dongeng pengantar tidur. Ibunya mengatakan bahwa Hatta mewarisi kecerdasan dan kegigihan yang dimiliki Haji Ali, meskipun bakatnya sebagai pengusaha tidak turut terwariskan.

Baca Juga:  Buka Rapat Pleno Kamar 2018, Ketua MA Doakan Korban Pesawat Lion Air

Tekadnya untuk tidak mengikuti jejak sang ayah sebagai pengusaha menjadi langkah awal menuju puncak karier tertingginya. Hatta memilih jalan hidup menjadi seorang hakim. Sebuah pilihan yang telah digariskan dalam takdir untuk menjadi pemimpin besar di masa yang akan datang. Jalan hidup itu telah diramalkan oleh ibunya saat melihat tanda lahir di jari telunjuknya.

“Hatta kelak kamu akan menjadi penguasa di negeri ini. Kamu harus belajar dan sekolah yang tinggi.” ucapan itu terus terngiang dan seakan menjadi nubuat bagi masa depan kariernya.

Semua perjuangan yang dilakukan berbuah manis. Enam puluh tahun kemudian, ucapan ibunya menjadi kenyataan. Ia terpilih sebagai orang nomor satu di Mahkamah Agung. Pemimpin tertinggi bagi segenap warga peradilan di seluruh Indonesia. Saat ini ia duduk di singgasana tertinggi lembaga peradilan dengan menyandang sapaan “Yang Mulia”.

Sekelumit perjalanan hidup yang dialaminya telah menyisakan banyak cerita menarik dari sisi dirinya sebagai manusia biasa yang kadang bisa terharu dan sedih, kadang juga lucu dan usil. Dibalik kesuksesan kariernya yang cemerlang, banyak yang tidak tahu bahwa Hatta Ali adalah pribadi yang humanis dan penuh dengan romantika hidup yang mengagumkan.

Tulisan dalam buku ini diambil dari berbagai kisah hidupnya yang belum pernah terungkap dan tidak banyak diketahui publik, namun dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di masa mendatang. (AF)